KeIlahian dan KeManusiaan Yesus
Rabu, 23 September 2009
0
komentar

Ke-Ilahian dan Ke-Manusiaan Yesus
Yesus adalah Allah dan manusia yang sejati. Keilahian dan kemanusiawian ini adalah prasyarat untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat. Kalau Yesus hanya keilahian Allah atau kemanusiaan manusia saja, Ia tidak dapat menyediakan penebusan dosa untuk manusia. Ada dua syarat supaya menjadi Juruselamat. Pertama, Ia itu harus benar yaitu tidak berdosa. Karena ketidaktaatan Adam membuat semua manusia menjadi orang berdosa, hanya yang benar, yang tidak termasuk keturunannya yang lolos kualifikasi. Kedua, Juruselamat harus dapat mencurahkan darah seperti manusia karena ada hidup dalam darah dan hanya darah saja yang dapat melakukan penebusan dosa. Yesus Kristus adalah Allah, Firman yang berinkarnasi, dan manusia yang sejati. Ia tidak memiliki dosa karena Ia adalah Allah; Ia dapat mencurahkan darah dan mencicipi maut karena Ia adalah manusia, karenanya Ia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia.
Keilahian Yesus jelas dibuktikan dengan pernyataan seperti “inkarnasi,” “kebangkitan,” “kenaikan,” “nama Yesus,” “Anak Allah.”http://www.blogger.com/img/blank.gif
Tambah Gambar Tubuh Yesus tidak berasal dari tanah yang dapat membusuk tetapi dari roh yang tidak pernah membusuk (John 1:14). Ia dikandung oleh Roh Kudus bukan karena kehendak atau keturunan manusia dan lahir dari seorang perawan. Oleh karena itu, tubuh-Nya membangkitkan roh manusia dan “penuh dengan keilahian” (Colossians 2:9), walaupun dibuat lemah dan dibatasi oleh waktu dan tempat. Iblis membunuh Yesus tetapi karena Yesus tidak berdosa, Allah membangkitkan Ia dari kematian dan membuat-Nya buah sulung kebangkitan. Luka karena paku dan tombak dalam tubuh kebangkitan ini menegaskan bahwa hal itu tidak datang dari bumi, tetapi Firman yang berinkarnasi. Di sisi lain, kemanusiaan Yesus dapat diketahui dari ungkapan seperti “dalam daging dan tulang”, “berdoa,” “mati,” “Anak manusia,” “Kristus” dll. Kemanusiaan menunjuk kepada sifat manusia menyangkut kelemahan tubuh daging. Manusia tidak dapat melampaui waktu atau ruang oleh karena tubuh mereka. Yesus juga terbatas dalam hal ini karena Ia datang sebagai Anak Manusia dengan segala kelemahan tubuh.
Pada dasarnya Allah tidak memiliki bentuk; Ia adalah Roh, satu Pribadi bukannya materi. Inkarnasi-Nya menunjuk pada kedatangan-Nya dalam daging dan tulang. Yesus dipenuhi dengan pengaruh dan sensasi manusia dan mengenal penderitaan, kesedihan, kelelahan, lapar, marah dan duka. Kemanusiaan Yesus yang tidak dapat disangkal disingkapkan ketika berada dalam kesedihan yang mendalam, sebelum penyaliban, Ia berdoa dengan ratapan dan airmata kepada Allah yang sanggup melepaskan-Nya dari kematian. Akhirnya Yesus menderita kematian dengan mencucurkan darah di kayu salib dan dikuburkan. Yesus Kristus adalah Allah dan manusia sejati yang memiliki baik itu keilahian dan kemanusiawian. Sebagai Anak Allah, Ia menjadi Tuhan dan Juruselamat umat manusia.
Tambah Gambar Tubuh Yesus tidak berasal dari tanah yang dapat membusuk tetapi dari roh yang tidak pernah membusuk (John 1:14). Ia dikandung oleh Roh Kudus bukan karena kehendak atau keturunan manusia dan lahir dari seorang perawan. Oleh karena itu, tubuh-Nya membangkitkan roh manusia dan “penuh dengan keilahian” (Colossians 2:9), walaupun dibuat lemah dan dibatasi oleh waktu dan tempat. Iblis membunuh Yesus tetapi karena Yesus tidak berdosa, Allah membangkitkan Ia dari kematian dan membuat-Nya buah sulung kebangkitan. Luka karena paku dan tombak dalam tubuh kebangkitan ini menegaskan bahwa hal itu tidak datang dari bumi, tetapi Firman yang berinkarnasi. Di sisi lain, kemanusiaan Yesus dapat diketahui dari ungkapan seperti “dalam daging dan tulang”, “berdoa,” “mati,” “Anak manusia,” “Kristus” dll. Kemanusiaan menunjuk kepada sifat manusia menyangkut kelemahan tubuh daging. Manusia tidak dapat melampaui waktu atau ruang oleh karena tubuh mereka. Yesus juga terbatas dalam hal ini karena Ia datang sebagai Anak Manusia dengan segala kelemahan tubuh.
Pada dasarnya Allah tidak memiliki bentuk; Ia adalah Roh, satu Pribadi bukannya materi. Inkarnasi-Nya menunjuk pada kedatangan-Nya dalam daging dan tulang. Yesus dipenuhi dengan pengaruh dan sensasi manusia dan mengenal penderitaan, kesedihan, kelelahan, lapar, marah dan duka. Kemanusiaan Yesus yang tidak dapat disangkal disingkapkan ketika berada dalam kesedihan yang mendalam, sebelum penyaliban, Ia berdoa dengan ratapan dan airmata kepada Allah yang sanggup melepaskan-Nya dari kematian. Akhirnya Yesus menderita kematian dengan mencucurkan darah di kayu salib dan dikuburkan. Yesus Kristus adalah Allah dan manusia sejati yang memiliki baik itu keilahian dan kemanusiawian. Sebagai Anak Allah, Ia menjadi Tuhan dan Juruselamat umat manusia.

0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.